Menikmati Libur Lebaran: Dari Kesulitan Sinyal di Kampung Halaman Sampai Tidak Mudik Demi Skripsi

Antara mudik dan tidak mudik. Masing-masing individu atau keluarga punya kisah tersendiri dalam melewatkan libur Lebaran. Mari simak beberapa kisah, serta pengalaman sejumlah penduduk Ibu Kota dan sekitarnya yang mengenai libur Lebaran, mulai dari harus repot-repot mengendarai motor sekadar untuk mencari sinyal di kampung halaman sampai yang tidak mudik demi menyelesaikan skripsinya. Selamat menikmati libur Lebaran yang penuh berkah!

Tidak Pulang, Demi Masa Depan

Nada Malik, Tangerang

Kampung Halaman: Surabaya, Merayakan Lebaran (Tetapi Tidak Pulang Kampung) buy at an easy rate generic pills no prescription

Empat teman saya pulang kampung. Tiga diantaranya pulang ke kampung halamannya masing-masing di Jawa Tengah dan Jawa Timur, sementara satu lagi ke Sumatera. Saya? Saya punya kampung, di Jawa Timur, tapi tidak pulang.

Saya tidak pulang di masa kini demi bisa pulang di masa depan, ketika saya telah berada di antara teman-teman yang telah menjadi pekerja. Tidak tahu kapan akan berada sampai sana, karena saat ini saya sedang berkutat dengan skripsi.

Namun, tak perlu menyesal berkepanjangan, buat Anda semua yang mungkin susah cari sinyal di kampung halaman atau kota atau desanya yang sudah sepi dari pukul delapan, namun di Jakarta dan sekitarnya seperti Tangerang tempat tinggal saya, sinyal telepon genggam tetap kuat (maaf) dan suasana masih lumayan ramai di waktu  menunjukkan pukul sembilan malam.

Mungkin masih banyak di antara mereka yang juga lebih memilih menunaikan pekerjaan-pekerjaan di kantor, dibanding pulang ke kampung halaman. Bisa jadi itu yang bisa disebut “berpikir ke depan’”. Karena sebagian besar orang Indonesia berada di kelas pekerja dewasa muda, bisa dibayangkan betapa orang-orang ini hendak membuat orang tua bangga di kampung.

Semoga skripsi saya segera rampung demi masa depan.

Johanes Hutabarat/REFLEKSIKA
H-2 Lebaran, Jalanan Cukup Lengang, Tak Perlu Menginjak Gas Terlalu Dalam

Belajar Mengemudikan Mobil di Momen Lengangnya Jalan Ibu Kota

Baginda, Jakarta

Kampung Halaman: Jakarta, Tidak Merayakan Lebaran

Lengangnya jalan-jalan di Jakarta bagi saya memberikan manfaat yang cukup berarti. Bagi seseorang yang belum terbiasa  mengendarai mobil, lengangnya jalan memberanikan saya untuk kembali untuk memantapkan kemampuan saya.

Tidak hanya itu, lengangnya Jakarta juga terasa menyenangkan. Kendaraan-kendaraan yang tetap membayangi melintasi jalan, di masa libur Lebaran terkesan lebih santai dengan mengurangi sedikit laju kendaraan. Lantunan lagu-lagu Bill Withers terasa semakin nikmat apabila diperdengarkan sambil berkendara atau sekadar menumpang di mobil kawan atau saudara.

Mari nikmati lengangnya jalanan Ibu kota.

Dari Tempat Satu Ke Tempat Lain

Svaradiva, Tangerang

Kampung Halaman: Mojokerto, Merayakan Lebaran (Pulang Kampung)

Mudik selalu menjadi tradisi bagi keluarga saya. Terlepas dari kepergian ayahanda, mudik tetap dilakukan untuk mengunjungi sanak saudara yang belum tentu satu tahun sekali bertemu.

Biasanya, rute mudik saya dimulai dengan mengunjungi makam mbah di Solo, menginap dan shalat Ied Fitri di Mojokerto, mengunjungi sanak saudara di Surabaya-Nganjuk-Ngawi, bermalam di Malang, kemudian menginap di Jogjakarta sebelum kembali ke hiruk pikuk Jakarta.

Dari semua kota yang saya sambangi selama mudik, hampir seluruhnya merupakan kota singgah maupun desa yang jauh dari keramaian kota.  Terbiasa hidup dalam riuhnya Jakarta membuat saya harus menyesuaikan diri selama mbalek ke kampung.

Jika malam di Jakarta saya terbiasa ditemani kopi, musik kafe, dan lampu kota, di kota-kota singgah dan desa ini saya ditemani semilir sejuk angin, rintihan jangkrik, dan rasa lapar yang menyerbu kala tak kuat menahan dingin.

Tak hanya suasana, perbedaan signifikan yang terasa adalah terkait fasilitas teknologi. Jika di Jakarta saya terbiasa browsing dan streaming sepuas hati, di kampung-kampung sejuk ini saya harus bersabar untuk sekedar menerima pesan singkat. Meski sudah ada beberapa daerah yang terjangkau televisi berlangganan, tapi tak menjamin kualitas sinyal yang diterima, baik sinyal penyedia jasa layanan telepon, internet, maupun televisi.

Cosmas Bayu/REFLEKSIKA
Di tengah kesejukan dan keindahan desa, namun keberadaan sinyal untuk telepon genggam sulit ditemukan.

Ke Mana Sang Sinyal Pergi?

Cosmas Sadewo, Tangerang

Kampung Halaman: Wonogiri, Tidak Merayakan Lebaran (Namun Mengikuti Tradisi Pulang Kampung)

Sungguh sulit untuk mengirim sebuah pesan kepada kawan atau calon teman hidup (sebut: pacar). Itu hal yang saya rasakan bila mudik ke daerah tempat kelahiran saya.

Hanya penyedia layanan tertentu yang sinyalnya yang dapat menjangkau kediaman saya, itu pun hanya dua hingga tiga batang. Selebihnya, tulisan “emergency error” atau “lost cennection” yang menyapa. Pernah suatu ketika, saya dan adik saya sampai harus meminjam motor trail milik paman untuk pergi ke pos ronda atau biasa saya sebut “naik ke atas” sekadar untuk mencari sinyal. Namun, apa daya, hanya adik saya yang mendapatkan sinyal untuk HP-nya, alhasil saya hanya menghirup asap-asap rokok dari bapak-bapak setempat yang nongkrong sambil bermain catur.

Kelebihan dan kekurangan selalu menyertai. Wonogiri, atau lebih tepatnya Desa Mloko Wetan, bisa dikatakan tempat yang sempurna untuk kalian yang mencari tempat untuk lari dari hiruk pikuk kota Jabodetabek. Namun, bagi mereka yang masih belum bisa lepas dari dunia maya, jangan harap Desa Mloko Wetan adalah surga baginya.

 

Plang Penunjuk Arah Tak Konsisten

Chatarina Kusuma Dewi, Tangerang

Kampung Halaman: Yogyakarta, Tidak Merayakan Lebaran (Namun Mengikuti Tradisi Pulang Kampung)

Mudik adalah tradisi keluarga saya setiap libur Lebaran. Meski saya dan keluarga tahu bagaimana macet perjalanannya, tetapi itulah pengalaman yang melengkapi keseruan acara mudik kami.  Macet tidak pernah menjadi masalah yang terlalu dipikirkan oleh keluarga saya. Mungkin karena paham bahwa kami ini jugalah yang ikut menjadi penyebab kemacetan dengan menggunakan mobil pribadi. Rekor terlama perjalanan mudik Tangerang – Yogyakarta saya adalah 26 jam. Masih terbilang beruntung dari pada banyak mudikers lainnya.

Perjalanan mudik kali ini terbilang lancar. Total 19 jam saya berada di jalanan. Itu pun sudah termasuk 4 jam yang dihabiskan untuk mampir di rumah Pakde di Majalengka.Namun berbeda nasib karena saya keluar tol Kertajati untuk melipir ke rumah Pakde. Setelah mampir di rumah Pakde, saya hendak melanjutkan perjalanan dengan masuk tol Cirebon. Namun ada penjaga yang tidak memperbolehkan saya masuk tol. Macet parah, katanya. Ya sudah, saya lanjut via jalan biasa. Tak disangka, jalan biasa malah lancar jaya. Mobil-mobil lainnya pasti menumpuk di tol. Benar saja, saya hanya terhambat di Brebes, menjelang pertigaan keluar tol Brebes Barat dan Timur.

Sampai di sekitaran Brebes, plang penunjuk jalan mulai mencantumkan tujuan Semarang, lengkap dengan jarak km untuk sampai kota tersebut. Plang pertama menunjukkan Semarang tinggal 200-an km lagi. Namun, satu jam kemudian, kilometernya malah bertambah. Sama dengan plang Tegal yang masih 20 km lagi, setelah beberapa kilometer masih tetap 20 km. Malah, lebih konsisten iklan sebuah restoran yang menampilkan petunjuk arah. Bagaimana ini, Pak Ganjar?

Ada hal lain di plang penunjuk arah yang menarik perhatian saya. Di samping beberapa tulisan kota, ada bentuk segilima berwarna putih dengan angka di tengahnya. Yang paling sering, di samping tulisan “Semarang”, ada angka “1”. Kadang ada juga angka “7”. Sampai di rumah kakek, tetap saja saya tidak terpikir penjelasan tentang angka tersebut.

Saat santai membaca peta mudik bonus Harian Kompas tanggal 1 Juli, saya melihat gambar rute utama jalur mudik 2016. Di situ ada gambar rutenya disertai nomor dan viagra sans ordonnance area yang dilewati. Ada angka “1” sampai “16” dalam kotak segilima persis yang terdapat di plang penunjuk jalan. Dari situ saya simpulkan nomor di plang adalah nomor rute utama jalur mudik.

Sederhananya begini, jika saya hendak ke Situbondo dari Tangerang, maka saya melewati rute 1. Namun, ketika sampai di daerah Tegal, tentu tidak akan ada tulisan “Situbondo” di plang tersebut. Nah, saya hanya perlu mengikuti arah yang terdapat nomor “1” di papan tersebut hingga sampai di Situbondo. Anda bisa mengunduh peta mudik yang lengkap di dephub.go.id.

Ini terobosan baru yang sebenarnya bisa sangat berguna bagi pemudik. Sayangnya, tak semua tahu informasi ini. Tak semua peta mudik mencantumkan rute tersebut. Mungkin pemerintah masih terlalu sibuk mengurusi kemacetan luar biasa yang terjadi dari tahun ke tahun. Semoga saja tahun depan rute bernomor ini bisa disosialisasikan untuk menarik mudikers melalui jalur biasa, ketimbang memenuhi jalan tol.

Mudik memang butuh kesiapan fisik dan mental secara total. Jika tidak ingin terjebak macet, bisa berangkat lebih awal. Gunakan e-toll. Manfaatkan aplikasi penunjuk jalan. Atau naik kendaraan umum saja. Jika terpaksa berangkat mepet dan terjebak macet, nikmati saja. Keluarga saya memanfaatkannya untuk bonding time. Saya percaya pemerintah terus bekerja keras untuk membangun dan mempersiapkan kelancaran mudik kita di tahun-tahun berikutnya.

Theodora Stefani/REFLEKSIKA
Antrean Pembelian Tiket Ferry Mengular.

Pelarian Dadakan dan  Antrean Pembelian Tiket Ferry Yang Mengular

Theodora, Tangerang

Kampung Halaman: Palembang, Tidak Merayakan Lebaran (Mudik Sebagai Liburan Sejenak di Tengah Rutinitas)

Ini kali kedua saya merasakan suasana Lebaran di kota kelahiran kedua orang tua saya, Palembang, Sumatera Selatan. Bisa dibilang ini pelarian dadakan. Ya, saya memang tidak berlebaran, tapi ini lebih ke momen libur panjang dan memanfaatkan waktu bepergian bersama keluarga. Pasalnya,hanya ini satu-satunya liburan yang bisa dipakai saya dan keluarga untuk bepergian bersama.

Untuk mencapai ke Sumatera, tentunya kami akan menyeberangi lautan menggunakan kapal ferry dari pelabuhan Merak. Kakak saya menginformasikan abhwa tiket untuk ferry dapat dibeli di purchase at low price generic pills without prescription rest area KM 43 dan 68 menuju Merak. Namun, sesampainya di rest area KM 43, antrean membeli tiket terlihat mengular, bukan sesuatu yang saya dan keluarga sangka. Begitu pula, di rest area KM 68. Suasana sesak, tak beraturan, bahkan makanan yang tumpah berceceran di salah satu wilayah rest area menambah suasana keacauan. Setelah ikut mengantre demi tiket, kami pun mendapatkan tiket yang telah ditunggu-tunggu. Saya rasa masih ada sedikit kekurangan mengenai penyediaan tiket penyeberangan. Pasalnya pada saat sampai di pelabuhan, kami masih harus menukarkan tiket yang kami beli di rest area dengan sebuah kartu.

Cukup sudah dengan panjangnya antrean tiket ferry, kami tinggal menikmati hari raya libur Lebaran. Saya merayakan Lebaran bersama salah seorang bibi yang beragama Muslim. Di Sumatera Selatan, tradisi untuk bertandang ke rumah saudara merayakan hari raya disebut Sanjo.

Bagaimana dengan makanan-makanan yang disuguhkan malam Lebaran ini? Hmm, semuanya berlemak! Tapi ini dijamin super “lemak” (lemak: bahasa Pelembang untuk enak). Makanan yang disajikan mulai dari makanan lebaran pada umumnya, seperti ketupat, rendang, opor, dan sayur buncis, hingga makanan khas Palembang seperti tekwan, celimpungan dan kue engkak ketan. Yum!

} else {

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *