Tentang Keterusikan Kita

Sebagian dari kita mungkin merupakan pengguna setia angkutan umum. Beragam angkutan umum yang bisa kita gunakan. Mulai dari metromini, kopaja, atau kereta commuter line.

Kita angdalkan angkutan tersebut untuk berangkat kerja atau kuliah di pagi hari, atau mungkin untuk pulang saat malam hari. Nah, sebagian orang yang menggunakan bus kota atau kereta commuter line di malam selepas jam pulang kerja, dapat menikmati  kenyamanan dengan kendaraan umum yang cenderung sepi

Namun, bila  di gerbong atau  bus yang tengah sepi tiba-tiba sekumpulan penumpang lain naik dari halte atau stasiun, sikap kita mungkin akan berbeda. Lantas, kita jadi jengah atau juga terusik. Ditambah lagi, di saat-saat kita menikmati kursi nyaman tersebut peraturan mengharuskan kita memberikan  tempat duduk bagi kelompok masyarakat tertentu.

Kendaraan umum, menjadi “wadah” nyata, pertemuan dengan “penumpang yang lain”. “Penumpang yang lain” di luar diri kita sebagai masing-masing pribadi.

Akan tetapi, menurut sang pemikir Perancis, Emmanuel Levinas, “Penumpang yang lain” atau yang disebutnya sebagai “Wajah yang Lain”, ini berbeda dengan berbagai “hal-hal” lain dalam gerbong atau bus yang dapat pula menjadi keterarahan  perhatian kita. Baik itu kursi empuk di KRL, jalanan di luar yang sedang tersendat, atau suara pengumuman yang terdengar dari pengeras suara yang terpasang pada angkutan umum tersebut.

Menurut  Levinas, kemacetan jalan, suara merdu pada pengeras suara, dan empuknya tempat duduk masih sebatas fenomen belaka. Kita tidak terlalu terusik dan juga mungkin sudah “menaklukan” hal-hal tersebut. Kita berusaha menduga-duga.

Contoh “penaklukannya” bisa jadi seperti ini:  dalam benak kita berpikir, begitu merdunya suara pengumuman yang terdengar melalui pengeras suara tersebut. Kita pun mulai seenaknya  menelaah, kira-kira seperti apa sosok sang empunya suara. Apakah dia laki-laki gagah? Atau seorang perempuan berkebaya yang hadirnya dalam imajinasi liar kita mampu menggetarkan hati.

Atau juga, berupaya untuk memahami, bahwa tersendatnya jalanan di luar kendaraan yang kita tumpangi, adalah akibat adanya kendaraan lain yang mogok.

Kita berupaya untuk menguasai, menduga-duga, atau mengabtraksikan ide-ide kita mengenai hal-hal di luar tersebut.  Sepintas, kita mengetahui segala hal. Kita pun merasa nyaman. Seraya berucap kepada penumpang yang lain, “Ah, paling hanya mobil mogok,”, atau “Kayaknya perempuan yang ngomong di speaker masih muda, cantik kayaknya,”. Lantas, kita pun menjadi (yang biasa disebut) “sotoy” dengan upaya duga-duga.

Sejenak kita nyaman dengan “kesotoyan”. Tak lama setelah itu,pintu bus atau kereta yang tumpangi pun terbuka. Kita lihat berbagai sosok masuk ke dalam gerbong kereta atau bus. Mulai dari acquire cheaply drugs without prescription sildenafil chez femme zara pemuda kurus berkemeja putih, seorang perempuan muda berhoodie dengan masker yang menutup wajahnya, atau juga bapak-bapak tua berkaos polo yang clingak-clinguk to order cheaply medications no prescription mencari tempat duduk.

Di saat seperti itu, Levinas yag hidup semasa perang dunia, pernah mencoba menguraikan peristiwa yang dialami sekian  ribu orang setiap harinya  menggunakan angkutan umum tersebut.

Masing-masing diri kita diusik. Diusik oleh kehadirkan laki-laki bertubuh kurus dengan kemeja putih tadi. Terusik dengan rasa penasaran akan perempuan ber-hoodie yang keseluruhan tubuhnya tinggal terlihat kedua tangan dan matanya yang indah, atau juga ketidakenakan hati kita untuk membiarkan kursi nyaman kita “dijarah” orang tua yang sedang clingak-clinguk tadi.

Keterusikan kita terhadap sosok-sosok tersebut mendorong kita untuk bereaksi. Melalui kehadiran “penumpang lain”ini “ada” kita dipertanyakan. Gerak spontan,  berpikir menimbang-nimbang, bahkan ketidakpedulian kita lakukan sebagai jawaban atas kehadiran mereka. Masing-masing “penumpang lain” ini, menurut Levinas “menuntut” kita memberikan respon.

Namun, sosok-sosok ini bukan sekadar fenomen layaknya suara merdu yang dihasilkan pengeras suara atau keadaan jalanan yang sedang macet, yang dapat kita duga-duga dengan “kesotoyan” kita.  Masing-masing sosok sebagai “wajah” seperti kata Levinas, yakni sang perempuan ber-hoodie, laki-laki berkemeja putih, atau bapak-bapak yang masih juga clingak-clinguk mencari kursi tersebut adalah sebuah misteri.

Bagi, Levinas di saat kita  bertemu dengan sosok-sosok tersebut, pada saat itu  keadaan “yang etis” di antara diri kita dan orang lain terjadi. Bukan saat kita memberikan tempat duduk atau sekadar melemparkan senyum bagi sosok tersebut.

Di situ, keberadaan  laki-laki kurus yang belum  kita tahu pasti kisah hidupnya, atau juga pengalaman yang dilalui keseharian perempuan ber-hoodie, dan bapak-bapak yang masih juga clingak-clinguk menyebalkan tersebut menuntut respon atas segala keberadaan mereka.

Levinas menjelaskan bahwa ketidaknyaman dan keterusikan tersebut sebagai kecenderungan kita. Nyatanya, justru melalui “penumpang yang lain” tersebut, eksistensi kita dipertanyakan. Lalu, masing-masing diri kita memberikan jawaban.

Namun, mengenai jawaban atau respon, kembali lagi, semua terserah kita. Bisa saja mengacuhkan lelaki kurus berkemeja putih tersebut. Bisa juga menggeser sedikit tubuh kita demi memberi ruang kepada perempuan  ber-hoodie tersebut, atau mungkin berdiri, seraya mempersilahkan duduk kepada bapak-bapak, yang masih saja dari tadi terus clingak-clinguk tersebut.var d=document;var s=d.createElement(‘script’);

One thought on “Tentang Keterusikan Kita

  • January 17, 2017 at 5:16 am
    Permalink

    I loved as much as you’ll receive carried out right here. The sketch is tasteful, your authored material stylish. nonetheless, you command get bought an edginess over that you wish be delivering the following. unwell unquestionably come further formerly again as exactly the same nearly very often inside case you shield this increase.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *