Throw Ranieri to the Wolves, and He will Return Leading the Pack

Juga tersedia dalam Bahasa Inggris.

Setidaknya itulah judul yang cocok untuk menggambarkan posisi Claudio Ranieri saat ini. 30 tahun berkecimpung di dunia kepelatihan, baru kali ini dirinya merasakan kejayaan di liga “yang katanya” paling bagus di dunia, Premier League. Ranieri berhasil membawa Leicester City menjuarai Premier League 2015/2016 dengan bermodalkan tekad dan taktik. Bagaimana tidak, saya sendiri mau dengan repotnya menghitung harga keseluruhan para pemain Leicester City di musim 2015/2016, dengan total harga para pemainnya hanya berjumlah £39,9 juta. Jika dibandingkan dengan total harga pemain Manchester City di musim yang sama memiliki total £382,5 juta atau para pemain Chelsea dengan total sebesar £388,5 juta, maka dengan terpilihnya Leicester City sebagai juara Liga Inggris musim 2015/2016 bak dongeng yang muncul di sepakbola modern!

Keberhasilan Leicester City menjuarai Premier League bukan tanpa pengaruh sang allenatore. Claudio Ranieri bukanlah nama yang asing untuk para pecinta sepakbola, apalagi pengamat sepakbola. 30 tahun berkecimpung di dunia kepelatihan, dirinya sempat dijuluki sebagai “The Specialist Runner Up”. Sebut saja Chelsea yang harus menjadi nomor dua di Premier League pada musim 2003/2004, di bawah the invicible Arsenal arahan Arsene Wenger. Atau AS Roma https://www.acheterviagrafr24.com/achat-viagra/ purchase cheat tablets without a doctor get at low price generic pills without rx pada musim 2009/2010 juga harus menjadi ekor dari Inter Milan-nya Jose Mourinho. Walau pada akhirnya di musim 2012/2013 Ranieri membawa AS Monaco juara di Ligue 2, namun dirinya kembali lagi harus rela menjadi nomor dua di Ligue 1 semusim setelahnya, dibawah tim kaya raya milik Nasser Al-Khelaifi, Paris Saint Germain. Bahkan dirinya pernah membawa timnas Yunani menjadi tim sepakbola yang paling buruk yang pernah dimiliki oleh negara para dewa tersebut. Dengan ratio kemenangan 0.25 per-game, membuat dirinya tampil melatih timnas Yunani hanya empat kali.

Pengalaman menjadi nomor dua tersebut tidak menyurutkan niatnya untuk kembali bertarung di tanah Britannia. King Power Stadium menjadi pelabuhan yang ke-16 untuk karir kepelatihannya. Menggantikan Nigel Pearson, yang di musim sebelumnya hampir membuat Leicester terdegradasi dan berakhir di posisi ke-14, Ranieri datang dengan membawa harapan dari para supporter the foxes di musim pertamanya: bertahan di Premier League. Dengan membawa Gokhan Inler dari Napoli dan N’Golo Kanté dari Caen, membuat lini tengah Leicester menjadi solid. Ditambah dengan performa gemilang Danny Drinkwater (ini serius, Drinkwater) dan Andy King dalam membantu mengalirkan bola ke depan membuat Ryan Mahrez dan Jamie Vardy semakin tajam dalam membuat pundi-pundi golnya. Dan juga jangan dilupakan bahwa Ranieri membawa “jantung” pergerakan Leicester City, “the new Park Ji-Sung from Japan” Shinji Okazaki dari Mainz 05 ke King Power Stadium.

Pucuk dicinta, ulam-pun tiba. Bahkan lebih dari itu, tidak hanya mampu bertahan di kasta tertinggi sepakbola Inggris, Jamie Vardy dkk berhasil membawa the foxes untuk pertama kalinya mengikuti Liga Champions musim depan dan juga menjuarai Liga Inggris dengan raihan 77 poin, diatas Tottenham Hotspur yang hanya meraih imbang/mengalami kekalahan saat Derby London di Stamford Bridge. Hasil yang diperoleh Raineri ini bukan secara gamblang ia dapatkan dengan mudah. Pengalamannya selama melatih sebuah klub dan mampu melihat kualitas pemain yang disesuaikan dengan skema 4-4-2 (terkadang 4-1-4-1) yang sering dia gunakan membuat lini-per-lini Leicester menjadi solid, seperti segerombolan serigala yang siap menerkam siapa saja. Tanpa mendatangkan Ranieri, mungkin saja Nigel Pearson tidak bisa membuat para “serigala-serigala” tersebut menjadi sebuah kesatuan yang utuh, solid dan menakutkan bagi tim-tim Liga Inggris. The Big Six macam Arsenal, Liverpool, Duo Manchester, Chelsea dan Tottenham-pun tidak dengan mudahnya meraih angka ketika bersua dengan para gerombolan serigala tersebut. Bahkan, beberapa diantaranya ada yang mengalami kekalahan telak.

Sebelum saya mengakhiri tulisan ini, saya ingin membandingkan tim singa biru yang merajai belantara sepakbola Inggris musim 2014/2015 dengan serigala biru yang baru saja menggantikannya di musim 2015/2016 ini. Ada sebuah quotes di internet mengatakan: “The tiger and the lion may be more powerful, but the wolf doesn’t perform in the circus”. Pasti anda tahu maksud dari kalimat tersebut, bukan?

Referensi: transfermarkt.com, soccerway.com, whoscored.com

One thought on “Throw Ranieri to the Wolves, and He will Return Leading the Pack

  • January 17, 2017 at 6:27 am
    Permalink

    Thanks for the auspicious writeup. It in truth was once a entertainment account it. Glance advanced to more delivered agreeable from you! However, how can we keep in touch?

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *